aku dan pacar ku

Senin, 26 April 2010

waduk jati gede..pembangunannya molor sampe 2014


tadi pagi mbah baca berita katanya waduk jati gede molor sampe 2014.. lama juga yah.... kurang lebih beritanya kaya gini....
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memundurkan target penyelesaian waduk Jatigede, dari 2012 menjadi 2014. Selain terhambat oleh pembebasan lahan yang menyisakan 1.305 ha, mega proyek ini juga mesti berkoordinasi dengan perusahaan asal China, Sinohydro Corp.

Demikian disampaikan Ditjen Sumber Daya Air Moch Amron saat mengunjungi lokasi waduk Jatigede, Sumendang, Jawa Barat, Sabtu (24/4/2010).

"Kami targetkan 2014 sudah selesai. Tepatnya Mei 2014 sudah final. Target pengairan sendiri sudah bisa dimulai 1 Oktober 2013," paparnya.
Dirinya mengaku, target selesainya waduk Jatigede memang terkendala oleh beberapa hal, diantaranya adalah penyelesaian pembebasan lahan serta komunikasi yang terus dilakukan bersama empat kontraktor Indonesia dan Sinohydro Corp.

"Ada beberapa, lahan, juga komunikasi antara beberapa pihak yang perlu, Cina juga konsorsium," paparnya.

Hingga tahun anggaran 2009, total lahan yang telah dibebaskan sekitar 75%. Ini terdiri dari lahan masyarakat sekitar 3.455,37 ha dan lahan yang merupakan kawasan hutan, 185 ha. Sisanya sekitar 1.305 ha belum terbebaskan, dari total lahan seluas 4.946 ha.

"Kami masih memonitor kondisi alam dan sosial dalam pembebasan lahan. Untuk sosial, akan ada 5.500 KK yang akan direlokasi tempat tinggal," ucapnya.
Pada mulanya program pembangunan Waduk Jatigede adalah 10 tahun, namun pelaksanaanya dipercepat sehingga hanya memakan waktu 6 tahun. Investasi waduk yang menyimpan potensi pembangkit listrik 110 mw ini, terdiri dari dua sumber.

Pertama, pinjaman dari BUMN China sebesar US$ 144,067 juta. Sisanya dari lokal, US$ 239,573 juta.

"PU juga tidak bisa bekerja sendiri. Butuh pemantauan dari hulu, mulai Gunung Papandayan, Garut untuk melakukan pengendalian erosi saat hujan. Ada dua kajian, sipil dilakukan oleh kami, dan vegetatif oleh (Kementerian) Pertanian dan Kehutanan. Jadi kita harus kerja sama dengan beberapa stakeholder," ungkapnya.
Proyek Waduk Jatigede sejatinya telah dirintis pada tahun 1970. Tujuan pembangunan Waduk Jatigede adalah untuk mengirigasi 90 ribu ha areal persawahan, menghindari banjir di daerah yang rentan seperti Indramayu dan Cirebon.
Juga menyuplai air baku untuk minum 3500 liter per detik, dan menghasilkan listrik 110 mega watt. Meski demikian, untuk menghasilkan listrik secara keseluruhan masih ditangani Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Kami sudah punya dasar hukum yang baru, yaitu PP 37 tahun 2010. Jadi dengan ini semoga lebih cepat," ungkapnya.


nahhh selain itu mbah denger juga katanya.. pembangunan ini akan menenggelamkan beberapa situs budaya jati gede.. wah...wah..... nti anak cucu kita belajar apa kalau situs sejarah jatigede ditenggelamkan..... untuk lebih jelasnya ada dibawah ni..
Situs-situs yang ada di wilayah ini sebagian merupakan peninggalan masa prasejarah (terlihat dari tradisi megalit yang ada), masa Kerajaan Tembong Agung/Sumedanglarang, dan sebagian lagi makam leluhur pendiri desa, ada juga yang tidak diketahui asal-usulnya. Menurut penelitian arkeologi, peninggalan- peninggalan leluhur ini, memperlihatkan adanya transformasi dari masa prasejarah (masa sebelum dikenal tulisan) ke masa sejarah (masa setelah dikenal tulisan). Jadi, makam kuna yang tergolong budaya megalit (batu-batu besar) itu adalah warisan prasejarah yang terus difungsikan pada masa sejarah. Situs-situs tersebut adalah sebagai berikut:

1. Situs Leuwiloa, berupa makam kuna (keramat) Embah Wacana, yang berlokasi di Kampung
Leuwiloa, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
2. Situs Nangewer, berupa makam kuna (keramat) Embah Mohammad Abrul Saka, yang
berlokasi di Kampung Nangewer, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
3. Situs Tembongagung, bekas-bekas kerajaan Tembongagung yang sudah sulit dikenali, hanya
ditemukan sebaran keramik Cina dari masa Dinasti Ming, yang berlokasi di Kampung
Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja
4. Situs Pasir Limus, merupakan kompleks makam kuna Eyang Jamanggala, Eyang Istri Ratna
Komala Inten, Eyang Jayaraksa (Eyang Nanti), dan makam lain. Di sebelah timur kedua
makam ini terdapat monolit. Diduga ada tatanan batu membentuk bangunan berundak.
Makam ini disebut juga petilasan Tilem
5. Situs Muhara, berupa makam keramat Eyang Marapati dan Eyang Martapati, yang berada
di Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja
6. Situs Marongpong, berupa makam keramat Embah Sutadiangga dan Embah Jayadiningrat,
pendiri Kampung Cihideung, yang berlokasi di Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja
7. Situs Nangkod, makam Embah Janggot Jaya Prakosa, yang berlokasi di Kampung Nangkod
Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
8. Situs Sawah Jambe, berupa tiga batu berdiri (menhir) yang terletak di wilayah Kampung
Sawah Jambe, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
9. Situs Lameta, berupa makam keramat Embah Dira dan Embah Toa, pendatang dari Betawi
yang membedah aliran Cihaliwung dan Cisadane. Tokoh ini juga diceritakan sebagai orang
(tempat lalandong/berobat) Prabu Siliwangi. Situs Lameta berada di pemukiman penduduk
Kampung Lameta Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja
10. Situs Betok, kompleks makam yang berlokasi di Kampung Betok, Desa Leuwihideung,
Kecamatan Darmaraja
11. Situs Tanjungsari, berupa kompleks makam kuna Embah H. Dalem Santapura bin Betara
Sakti, penyebar agama Islam di Darmaraja, dengan enam makam putranya, yang berlokasi
di Dusun Kebon Tiwu, Desa Cibogo, Kecamatan Darmaraja. Di lokasi ini juga terdapat
makam Demang Patih Mangkupraja, Patih Sumedang semasa Pangeran Kornel, dan
makam-makam para juru kunci. Dekat situs terdapat sumur kuna yang disebut Cikahuripan
12. Situs Munjul, berupa kompleks makam dengan makam utama Singadipa, yang berlokasi di
Kampung Munjul, Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja
13. Situs Keramat Eretan, berupa makam keramat Embah Geulis, istri Prabu Gajah Agung, dan
makam-makam lainnya yang berlokasi di Kampung Cisurat, Desa Cisurat, Kecamatan Wado
14. Situs Cipawenang, yakni mata air yang dikeramatkan. Situs ini berada di Kampung
Cigangsa, Desa Pawenang, Kecamatan Wado. Konon mata air ini dibuat secara ajaib oleh
Nyi Mas Ratu Asih, putri dari Kerajaan Nunuk di Majalengka
15. Situs Cigangsa, berupa kompleks makam umum yang masih difungsikan hingga sekarang.
Pada bagian yang paling atas terdapat kelompok makam yang dikeramatkan, di mana
terdapat makam utama yaitu makam Embah Dalem Raden Arya Wangsa Dinaya. Situs
berlokasi di Kampung Cigangsa Desa Pawenang, Kecamatan Wado.
16. Situs Gagak Sangkur, berupa makam keramat Raden Aria Sutadinata ( berasal dari Banten)
yang berlokasi di Kampung Sundulan, Desa Padajaya, Kecamatan Wado;
17. Situs Tulang Gintung, berupa makam keramat Eyang Haji Rarasakti atau Jayasakti yang
berlokasi di Pasir Leutik, Kampung Sundulan, Desa Padajaya, Kecamatan Wado.
18. Situs Keramat Gunung Penuh, berupa makam keramat Tresna Putih, yang berlokasi di
Kampung Bantarawi, Desa Padajaya, Kecamatan Wado
19. Situs Keramat Buah Ngariung, makam Embah Wangsapraja, penyebar Islam di Buah
Ngariung, yang berlokasi di Kampung Buah Ngariung, Desa Padajaya, Kecamatan Wado.
20. Situs Curug Mas, berupa tiga objek, yaitu pertama, kompleks makam Embah Dalem
Panungtung Haji Putih Sungklanglarang, penyebar agama Islam dari Kesultanan Mataram
dan makam pengikutnya yang bernama Angling Dharma, kedua, air terjun Curug Mas yang
diyakini sebagi tempat menyimpan bokor emas, bakakak (ayam dibelah) emas, dan
tumpeng emas; dan ketiga, sumur keramat yang dinamai Sumur Bandung. Situs ini
berlokasi di Kampung Cadasngampar, Desa Sukakersa, Kecamatan Jatigede.
21. Situs Cadasngampar, berupa komplek makam Aki Angkrih, pendatang dari Sumatra yang
mendirikan Kampung Cadasngampar, dan makam keluarganya, yaitu makam Aki Angkrih,
Nini Angkrih, Aki Kulo, dan Nini Kulo. Situs ini terletak di Dusun Cadasngampar, Desa
Sukakersa, Kecamatan Jatigede.
22. Situs Tanjakan Embah, berupa makam keramat Embah Jagadiwangsa dan Embah Sadaya
Pralaya, yang berlokasi di Desa Jemah, Kecamatan Jatigede.
23. Situs Sukagalih, berupa lima makam yang dilengkapi bangunan cungkup. Tokoh utama
yang dimakamkan adalah pendiri desa ini yaitu Eyang Akung. Di sebelah baratnya adalah
makam istrinya, selanjutnya Aki Gading dan dua makam lagi tidak diketahui namanya.
Situs ini berlokasi di Dusun Sukagalih, Desa Jemah, Kecamatan Jatigede.
24. Situs Keramat Aji Putih. Situs yang berada di Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan
Darmaraja ini berupa makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan, makam Prabu Aji Putih,
dan makam Resi Agung:
1. Makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan. Lokasi objek terletak di tengah persawahan
Makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan (istri Prabu Aji Putih) sampai sekarang masih
dikeramatkan oleh penduduk dan masih diziarahi orang, baik penduduk setempat
maupun dari luar dengan berbagai keperluan.
2. Makam Prabu Aji Putih. Lokasi makam terletak di sebelah timur laut makam Ratu Ratna
Inten Nawangwulan. Objek berupa makam yang terletak di puncak bukit. Bukit tersebut
dikelilingi oleh parit dan tidak jauh dari Sungai Cibayawak.
3. Makam Resi Agung. Lokasi makam terletak di puncak bukit sebelah utara makam Prabu
Aji Putih. Makam tersebut merupakan makam guru Prabu Aji Putih, pendiri Kerajaan
Tembongagung. Makam masih dikeramatkan dan diziarahi oleh masyarakat setempat
dan dari luar.
25. Situs Astana Gede Cipeueut. Secara administratif situs terletak di Kampung Cipeueut, Desa
Cipaku, Kecamatan Darmaraja. Lokasi situs terletak di pinggir jalan masuk ke Desa Cipaku
dan menyatu dengan pemakaman umum warga setempat. Di situs ini terdapat tiga objek
berupa makam Raja Sumedanglarang, Prabu Lembu Agung, Embah Jalul, dan istri Prabu
Lembu Agung. Ketiga makam tersebut sampai sekarang masih dikeramatkan oleh
masyarakat setempat dan luar daerah.

Demikianlah situs-situs yang berada di lokasi bakal genangan Waduk Jatigede. Makam-makam kuna ini adalah peninggalan sejarah yang mencerminkan latar belakang sosio budaya masyarakat lama di Kabupaten Sumedang dan nilai makam-makam ini melekat dengan tempat (site) di mana ia berada. Sebagai warisan peradaban sudah sepatutnya situs-situs itu kita lestarikan.
mbah dapet ini dari sumber terpercaya lohh... Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.

Tidak ada komentar: